Tentang

Kerajaan Dharmasraya jauh lebih tua dibanding Majapahit. Literatur tertulis tentang Dharmasraya tersua dalam kitab Niti Saramuscaya, yang hingga hari ini diakui sebagai naskah melayu tertua di dunia.

Karena disimpan di Tanjung Tanah, Kerinci, Niti Saramuscaya lebih dikenal dengan nama Naskah Tanjung Tanah.

Pada masa jayanya, kerajaan Dharmasraya menjalin hubungan baik dengan kerajaan Singosari, pendahulu Majapahit.

Kertanegara, raja Singosari yang kesohor itu, pernah mengirim Amoghapassa untuk Tribuana Mauliwarmadewa, raja Dharmasraya. Peristiwa inilah yang kemudian hari dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu.

Dalam terminologi Buddha, Amoghapassa adalah perlambang kasih dan sayang. Persatuan dipantara.

Menelaah surat pengiring yang menyertai Amoghapassa, Ekspedisi Pamalayu terjadi pada 22 Agustus 1286. Sebagaimana Singosari, Dharmasraya pun telah lama runtuh.

Lama tak dikenal, pada 7 Januari 2004 nama Dharmasraya dihidupkan lagi jadi nama kabupaten baru di Sumatera Barat.

Mambalia’an siriah ka gagangnyo, pinang ka tampuaknyo. Kok lai bungo ka jadi putiak, putiak ka jadi buah. Buah untuak ka basamo.

Di kabupaten termuda di Sumbar ini, tapak-tapak kajayaan Dharmasraya masih berjejak. Reruntuhan candi berserak di kebun-kebun. Sangat luas.

Nah, dengan semangat persatuan Indonesia, pada musim yang ini, rakyat Dharmasraya menghelat Festival Pamalayu.

Mulai 22 Agustus 2019 hingga 7 Januari 2020. Momentum ini merujuk pada penanggalan Amoghapassa dan hari jadi Kkabupaten Dharmasraya.

Menjemput tuah, pembukaan Festival Pamalayu digelar pada hari Kamis, 22 Agustus 2019 di Museum Nasional, Jakarta, tempat Amoghapassa kini berada.

Selanjutnya, membangkit batang tarandam, alek nagari digelar di Dharmasraya, Sumatera Barat. Puncaknya pesta rakyat tujuh hari tujuh malam, tanggal 1 hingga 7 Januari.

Sanak saudara… pangganti siriah jo carano, kami undang undang puan dan tuan datang ke alek nagari Dharmasraya…

Bupati Kabupaten Dharmasaraya
Sutan Riska Tuanku Kerajaan, S.E

Festival Pamalayu terinspirasi dari sebuah ekspedisi yang terjadi pada tahun 1286 dari Singosari menuju Dharmasraya yang saat itu menjadi pusat Kerajaan Malayu.

Narasi sejarah yang banyak diketahui selama ini menyebutkan, bahwa ekspedisi tersebut adalah penakhlukan kerajaan di Sumatra oleh kerajaan di Pulau Jawa. Padahal, sejumlah ahli dan sejarawan, dengan berpijak pada bukti-bukti yang kuat, menyimpulkan, ekspedisi itu adalah ekspedisi persahabatan untuk menjalin persatuan menghadapi ancaman kekuatan militer dari Mongolia.

Salah satu bukti tanda persahabatan tersebut adalah arca Amogaphasa. Arca ini sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta bersama Arca Bhairawa yang juga ditemukan di bekas komplek percandian yang ada di Dharmasraya. Arca yang dibawa Ekspedisi Pamalayu sebagai hadiah dari Raja Singosari Kertanegara kepada Raja Malayu Mauliwarmadewa di Dharmasraya dan segenap rakyatnya.

Ekspedisi yang membawa hadiah dan disambut dengan riang gembira tersebut, dicatat dalam lapik prasasti terjadi pada tahun saka atau bertepatan dengan 22 Agustus 1286.

Ratusan tahun setelah kejadian tersebut, Dharmasraya diabadikan jadi nama salah satu kabupaten di Provinsi Sumatra Barat. Secara resmi, kabupaten ini disahkan pada tanggal 7 Januari 2004.

Kabupaten yang sedang giat membangun ini, ingin menggali nilai-nilai dan kekayaan budaya dari peradaban di masa lalu sebagai pelajaran kebaikan yang berguna untuk hari ini dan masa depan.

Ekspedisi Pamalayu yang membawa nilai-nilai persahabatan dan persatuan pada abad ke-13 itu, menginspirasi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mengadakan festival yang mengambil nama dari ekspedisi tersebut.

Festival Pamalayu untuk pertama kali diadakan dalam rentang hampir lima bulan sejak 22 Agustus 2019 hingga 7 Januari 2020. Dua tanggal tersebut diambil, sebagai simbol Dharmasraya di masa lalu dan di zaman sekarang.

Sepanjang festival, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya bekerja sama dengan beberapa pihak akan menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat, jurnalis, ilmuwan dan berbagai kalangan untuk menggali kekayaan budaya dan peradaban masa silam Dharmasraya.

Bukan saja tentang Kerajaan Malayu di abad ke-13, tetapi juga beberapa kerajaan hingga di masa Islam yang bahkan masih eksis hingga sekarang.

Selain seminar dan workshop, rangkaian acara festival juga mencakup atraksi seni, berbagai lomba, pameran, pawai, olahraga hingga karnaval di atas sungai Batang Hari yang membelah Kabupaten Dharmasraya.

Semua kegiatan tersebut diarahkan dengan tujuan:
1. Melestarikan heritage dan peninggalan peradaban masa lalu Dharmasraya.
2. Mendorong masyarakat untuk ikut menjaga berbagai peninggalan peradaban masa lalu Dharmasraya dan belajar dari berbagai nilai-nilai kearifannya.
3. Mempromosikan berbagai kekayaan peradaban pada masa lalu tersebut agar bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat di masa sekarang.

1. Peluncuran dan Seminar Nasional

2. Aneka perlombaan
a. Lomba Vlog
b. Lomba Foto
c. Lomba Menulis Karya Jurnalistik

3. Worskhop Heritage dan Jurnalis Trip

4. Pesta Rakyat (1 Januari hingga 7 Januari 2020)
a. Karnaval Arung Pamalayu
b. Talkshow tentang Sungai
c. Talkshow Remah di balik Masakan Minang
d. Jalan sehat
e. Pameren Artefak Kuno
f. Pameran Kuliner Dharmasraya
g. Malam kesenian pelbagai etnis di Dharmasraya
h. Lomba pidato adat
i. Lomba pantun
j. Teater kolosol Ekspedisi Pamalayu
k. Karnaval Budaya